Dinginnya malam itu tak Reyna rasakan lagi. Dia terus memandangi
titik hujan didepan jendela kamarnya, seakan dalam setiap titik itu banyak
tersimpan kenangan indah baginya. Reyna terdiam, air matanya pun jatuh membasahi
pipinya.
"Revan....", kata" itu keluar dari mulutnya.
"Aku kangen sama kamu",
ujarnya dengan mata yang berbinar-binar.
Reyna teringat masa" indahnya bersama Revan, kekasih yang
sangat ia cintai. Titik hujan itu mengingatkan Reyna saat pertama kali ia
mengenal Revan.
***
Waktu itu sepulang sekolah hujan begitu lebat. Reyna bersama
sahabatnya Rani menunggu bus di halte depan sekolah.
"Huffff..... Hujannya lebat banget, mana mama suruh cepat
pulang lagi, bus gak ada yang lewat.. Waduh,,, sial banget..", ujar Rani
kesal.
"Yang sabar, bentar lagi hujannya reda kok. Tunggu aja bentar
lagi," ujar Reyna menghibur sahabatnya itu.
"Kapan redanya ni Rey..??? Gak da tanda" mau cerah lagi
kayaknya," ujar Rani sambil memandangi langit.
Reyna hanya tersenyum melihat Rani. Tak lama kemudian "Wah,,,
itu Kak Rama udah jemput aku," ujar Rani dengan senangnya.
"Rey,, kita boncengan berdua aja yuk,, tu Kak Rama udah jemput aku."
"Hmmm,,, gak usah la Ran, kamu duluan aja pulangnya. Masih
hujan ni,," ujar Reyna dengan tersenyum.
"Gak papa kok Rey, kamu pake jas hujan aku aja," tawar
Rani sambil membujuk sobatnya itu.
"Gak usah Ran, kamu duluan aja. Kasian itu Kak Rama kedinginan,
aku tunggu busnya aja, bentar lagi datang kok."
"Hmmmm... Ya udah,,, aku duluan ya Rey," lalu Rani berlari
mendekati kakaknya itu.
"Iya,, hati-hati ya Ran, ujar Reyna dengan suara sedikit
tinggi.
Dari kejauhan terlihat Rani tersenyum padanya. Dengan sabar Reyna
menunggu bus, beberapa menit setelah itu bus pun datang. Dengan semangatnya
Reyna mendekati bus itu. Tapi,, tiba"
"Aduh,,," ujar Reyna. Ia terpleset karena jalan yang dia
lewati itu licin.
"Ssssttt..... Perihnya,," ujar Reyna merintih kesakitan.
Tiba-tiba seorang pria tampan dengan kemeja putih datang
menghampirinya. "Kamu gak papa...??? Mari aku bantu," dengan
tersenyum pria itu mengulurkan tangannya.
Reyna terpaku melihat pria yang berdiri di depannya itu, dengan
terbata-bata ia menjawab "ng.... nggak papa kok," lalu ia memegang
tangan pria itu.
"Ssssttt..... Perih,," Reyna tampak kesakitan menahan luka
di lututnya.
"Kaki kamu luka," ujar pria itu sambil mengulurkan sapu
tangan dari sakunya. Kemudian dia menolong Reyna menaiki bus yang ada di
depannya.
Di dalam bus Reyna hanya merintih menahan luka di lututnya itu. "Makasih
ya kamu dach mau nolongin aku," ujar Reyna pada pria itu.
"Iya,, sama-sama. Nolong sesama itu pahala lo,," kata pria
itu sambil tersenyum manis kepada Reyna.
Melihat senyuman itu Reyna terpana,, hatinya berkata-kata "
Wah,,, ni orang keren banget,, baik lagi tu. Hmmmm,,, Andai aja....." ia
larut dalam lamunannya.
"Hey,,, kamu lagi mikirin apa..?? Kata pria itu sambil menepuk
bahu Reyna.
"Haaa,, gak da apa" kok," pipi Reyna memerah, ia malu
banget.
"Kita dari tadi belum kenalan ya, aku Revan." Ujar Revan
sambil mengulurkan tangannya.
"Aa...aa..aku Reyna," ujar Reyna. Lagi" dia terpaku
melihat senyum Revan, pria yang menolongnya tadi.
"Wah,,,, ternyata namanya Revan.. Kereeeennn.." ujar Reyna
dalam hati.
"Hmmm... Lam kenal ya Reyna,," ujar Revan yang mengejutkan
Reyna dari lamunannya.
"Iya,, kamu sekolah dimana Revan..???"
"Haaa… Aku udah kuliah Rey,, itu kampusku tak jauh dari sekolah
kamu."jawab Revan.
"Oooo....," ujar Reyna.
Kemudian mereka terdiam, Reyna menggosok-gosok luka dilututnya
dengan sapu tangan yang dikasih Revan. Bus pun terus melaju. "Hmmmm,,,
dach mau nyampe, aku turun di gang itu," ujar Reyna sambil menunjuk ke
gang arah rumahnya.
"Wah,,,, sama dong, aku juga turun disitu," ujar Revan.
"Yuk,,,," Revan mengajak Reyna turun. Dengan tersenyum
Reyna berdiri, dia kelihatan bahagia banget meskipun lututnya masih luka dan
mengeluarkan banyak darah, namun iya tak merasakan perihnya lagi.
"Kapan" main ke rumah aku yach, rumahku yang itu dan
thank’s banget kamu udah bantuin aku tadi. Kamu baik banget Revan," ucap
Reyna sambil tersenyum.
"Iya,, sama-sama. Kapan" aku mampir ke rumah kamu Reyna. O
ya... Itu rumah aku Rey, gak nyangka ternyata kita tetanggaan." jawab
Revan.
"Thank's ya Revan, aku masuk dulu.."
"OK,,,” ucap Revan.
“Hmmm… Reyna.” Triak Revan.
“Ya…” jawab Reyna sambil menoleh kebelakang.
“Senang berkenalan dengan kamu," ujar Revan sambil tersenyum.
Reyna pun membalas senyum Revan.
Malam pun datang, Reyna sambil berbaring di kamarnya
tersenyum-senyum mengingat kejadian tadi siang. Dia senang banget berkenalan
dengan Revan.
Sejak kejadian itu, Reyna semakin dekat dengan Revan. Mereka selalu
pulang bersamaan. Sampai-sampai mau berangkat sekolah pun Revan selalu menunggu
Reyna keluar dari rumahnya dan mengantarkannya ke sekolah.
Pagi itu, sekolah Reyna mengadakan rapat. Jadi murid"
diperbolehkan pulang. Seperti biasa, Reyna menunggu bus di halte sekolah
bersama sahabatnya Rani. Pada saat itu juga, Revan bersama teman"nya
nongkrong di depan kampus. Tiba-tiba Revan melihat Reyna menunggu bus di halte,
dengan segera iya mengendarai motornya dan mendekati Reyna.
"Hey Rey,,, kamu udah pulang..?? Tumben cepat pulangnya."
tanya Revan.
" Iya ni Revan,, aku dach pulang. Guru" mau rapat, jadi
pulangnya cepat." jawab Reyna.
"Oooo,,, aku antar pulang yach,, kebetulan dosen gak
datang." tawar Revan.
"Cie,,, cie,,, kayaknya makin dekat aja ni...!!!," ujar
Rani ngledek.
"Ah,,, kamu ini Ran." jawab Reyna tersipu malu. "Aku
bareng Rani aja deh pulangnya Revan."
"Loh,,, ngapain bareng aku,, kamu duluan aja. Aku mau ke toko
kue dulu. Mau jemput kue pesanan mama."jawab Rani, Rani berbohong pada
Reyna, sebenarnya dia mau Reyna pulang bersama Revan.
"Tapi Ran,,,???"..
"Udah Rey,, kamu duluan aja.. Aku gak papa kok. Moga sukses
ya," bisik Rani ke Reyna.
"Hussss,,, kamu ini ada-ada aja.." jawab Reyna.
"Ya udah,, aku duluan ya Ran,, Bye..." Reyna menaiki motor
Revan dan meninggalkan Rani.
Di atas motor mereka diam saja, gak da sepatah kata pun yang keluar
dari mulut mereka. "Rey,, kita pergi jalan-jalan dulu yuk.. Aku mau ngajak
kamu ke suatu tempat," ujar Revan.
"Kita mau kemana Revan...??? Tapi jangan lama-lama
ya..!!!" jawab Reyna.
"Kamu tenang aja,, gak bakalan lama kok."
Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah taman,, yang begitu
indah. Taman itu dikelilingi danau, yang airnya begitu jernih. Tempatnya begitu
tenang, sejuk, pas banget buat nenangin pikiran. "Dach nyampe Rey, ini
tempat nongkrong aku kalau lagi ada masalah." ujar Revan menjelaskan.
"Wah,,, tempatnya begitu indah Revan.. Aku senang banget,"
jawab Reyna sambil menghirup udara segar di Taman itu.
Revan tersenyum, memandangi wajah Reyna yang putih bersih itu.
"Aku harus mengatakan sekarang padanya," ujar Revan dalam hati.
"Yuk Rey,, kita duduk di situ." Lalu Revan menarik tangan
Reyna,, dan mengajaknya duduk di sebuah kursi yang ada di depannya.
"Hmmm,,, tempatnya tenang yach, Adem. Aku serasa berada di
surga.. hehehe," kata Reyna sambil tertawa kecil.
"Kamu senang Rey...???" tanya Revan...
"Senang banget Revan,, makasih ya.." jawab Reyna sambil
tersenyum kepada Revan. Dan Revan pun membalas senyumnya.
"Rey,, ada yang mau aku omongin sama kamu. Ini tentang perasaan
aku ke kamu Rey." wajah Revan tampak serius.
Sesaat itu juga tiba-tiba muka Reyna memerah. "Ya ampun,, apa
yang terjadi ni..?? Napa aku deg-degkan kayak gini.." ujar Reyna dalam
hati. "Kamu mau ngomong apa Revan...???" tanya Reyna singkat.
"Aku sayang sama kamu Reyna,, aku cinta kamu. Sejak kita
berkenalan, perasaan aku ini beda. Rasanya tenang banget berada di samping kamu,
kamu mau gak jadi pacar aku..???" tanya Revan dengan wajah yang serius.
"Kamu serius Revan..??" tanya Reyna seakan-akan ia tidak
percaya dengan kata-kata Revan tadi.
"Iya Rey,, aku serius. Aku tu cinta kamu,, aku gak bisa bohongi
perasaan aku Rey,, aku tu benar-benar sayang sama kamu." jawab Revan.
Reyna terdiam,, perasaannya begitu senang. Ia sabenarnya juga sayang
sama Revan. "Hmmm,,, aku juga sayang sama kamu Revan.." ujar Reyna
perlahan.
"So... sekarang kita resmi pacaran kan Rey,,?" tanya Revan
bersemangat.
"Hu'um..." Reyna mengangguk dan tersenyum. Revan begitu
senang.
"Thank's ya Rey,, aku sayank sama kamu..", lalu Revan
mencium kening Reyna.
Pada saat itu juga,, hujan pun turun. Reyna tertawa riang,, dia
begitu senang sekali. Begitu juga dengan Revan. Lalu mereka pulang disaat hujan
lebat itu turun.
Waktu pun terus berlalu, Revan dan Reyna selalu bersama. Sedih,
senang selalu mereka hadapi berdua. Seakan dunia milik mereka berdua. Tanggal
10 November hari ulang tahunnya Rani. Rani mengundang Reyna dan Revan dalam
acara ulang tahunnya itu.
Pagi itu Revan menunggu Reyna untuk pergi ke pesta Rani, tak lama
kemudian, Reyna pun keluar dari rumahnya dengan memakai gaun berwarna putih. "Waw,,,
Rey.. kamu cantik banget," Revan ternganga melihat Reyna dengan gaun putihnya
itu.
"Ah,,, Revan.. biasa aja kok," sahut Reyna dengan
manjanya.
"Aku jadi makin sayang aja liat kamu Rey.." ujar Revan
gombal.
Sambil tersenyum Reyna menjawab " yuk,, kita pergi lagi". Lalu
Revan mengendarai motornya. Mereka pun pergi ke rumah Rani sahabat Reyna.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumahnya Rani,, dari tadi Rani
memang menunggu kedatangan kedua sahabatnya itu.
"Akhirnya kalian datang juga,, aku dach nunggu dari tadi. Waw..
Rey, kamu cantik banget,," ujar Rani, ia terkejut melihat penampilan Reyna
waktu itu.
Reyna menjawab, "sorry ya Ran, kami telat datangnya.. Kamu ini,,!!!
biasa aja kok."
"Sumpah Rey,, kamu cantik banget.. Aku yang lagi berulang tahun
bisa kalah ni. Hmm,,, si Revan makin tambah sayang tu,," ujar Rani sambil
melirik ke Revan. Revan tersenyum mendengar kata-kata Rani.
"Ya udah,, yuk kita masuk. Bentar lagi acara mau di
mulai." ajak Rani.
Dalam ulang tahun Rani ada acara dansa Romantis, dan di sini juga di
pilih pasangan yang paling romantis dalam acara itu. Revan dan Reyna mengikuti
acara tersebut. Tak lama setelah itu, diumumkanlah siapa pasangan dansa yang
paling romantis di pesta itu.
“Baiklah teman-teman sekalian, untuk menutup acara kita ini, saya
akan mengumumkan siapa pemenang dari dansa yang kita adakan, dan pemenangnya
adalah pasangan… ( semua terdiam )
“Revan dan Reyna, slamat ya, pasangan kalian terpilih sebagai pasang
dansa paling romantis dalam acara ini.” Ujar sipembawa acara. Semua penonton
pun memberikan tepuk tangan yang meriah kepada mereka berdua. Mereka gak
percaya ternyata terpilih menjadi pemenang.
Acara ulang tahun Rani pun telah selesai dilaksanakan. Rani begitu
senang karena acara ualng tahunnya berjalan dengan lancar.
“Thank’s banget ya, kalian dach datang di acara aku. Aku senang
banget.”
“Iya Ran, sama-sama kami juga senang kok, iya kan Revan..??” Tanya
Reyna sambil memegang tangannya Revan.
“Iya,,” jawab Revan sambil tersenyum.
“O ya Ran, kami pulang dulu yach. Dah mau hujan.” Ujar Reyna.
“Ntar aja pulangnya, ntar kalian kehujanan lagi. Dach gelap banget.”
Rani melarang mereka pulang, karena saat itu mendung, dan awan pun tampak
hitam.
“Gak apa-apa kok Ran, kami pulang aja,”jawab Revan.
“Ya udah deh, kalian hati-hati ya.” Jawab Rani dengan cemas.
Perasaannya mulai gak enak.
Mereka pun pergi
meninggalkan rumah Rani, Rani terus memandangi Revan dan Reyna. Seakan-akan dia
gak akan bertemu lagi dengan kedua sahabatnya itu.
“Ya Allah,,
lindungilah mereka berdua.” Ujar Rani dalam hati. Kemudian dia memasuki
rumahnya.
Diperjalanan Revan
dan Reyna selalu bercanda. “Ternyata kamu pandai juga dansa ya Revan..??” ujar
Reyna sambil tertawa.
“Yeeeee,, kamu ngledek aku ya..?? Ya pandai la, aku githu loh.” Lalu
Revan tertawa.
Reyna memeluk pinggang Revan
dengan kuat, dia selalu memperhatikan wajah Revan dari kaca spion motornya,
seakan dia takut kehilangan Revan, lalu dia terdiam.
“Rey… Revan memanggil Reyna,”
namun tak ada jawabnya. “ Reyna… Kamu ketiduran…???” ujar Revan sekali lagi.
“Haaa,,, iya Revan. Da apa…???”
jawab Reyna bangun dari lamunannya.
“Kamu kenapa Rey,,?? Kamu sakit..??
Napa tadi aku panggil kamu diam aja.” Tanya Revan.
“Gak ada apa-apa kok,,” Reyna
semakin kencang memeluk pinggang Revan dan bersandar ke bahunya. “Revan… Aku sayang
banget sama kamu, aku takut kehilangan kamu” ujarnya.
“Hehehe,, kamu ngomong apa sih
Rey..?? Ngegombal lagi ni anak,” ujar Revan sambil tertawa kecil.
“ Gak gombal Revan,,,,!!!! Aku
serius,, aku sayang banget sama kamu.” Jawab Reyna dengan manja.
“Iya cinta… Aku juga sayang sama kamu.
Sayaaaaang banget.” Jawab Revan sambil memegang tangan Reyna.
Motor Revan pun melaju dengan
kencang. Tiba-tiba kepala Revan pusing, dia tampak resah. “ Revan,,, kamu
kenapa…???” Tanya Reyna.
“Gak ada apa-apa kok Rey…”
ujarnya. Dia terus menahan rasa sakit di kepalanya. Reyna tampak bingung melihat
tingkah Revan, “Revan kamu baik” aja kan..???” Tanya Reyna sekali lagi. Revan
tak menjawab, tiba” pandangannya mulai kabur, hujanpun waktu itu turun begitu
lebat.
Tiba” dikejauhan terlihat mobil
kijang lewat, “Revan, awas ada mobil,” teriak Reyna. Tapi Revan tak melihat
apa-apa, pandangannya kabur. “Revan… Kamu kenapa…??? Itu di depan kita ada
mobil Revan,” ujar Reyna.
Dia tetap tak mendengar, motor
yang di kendarainya terus melaju kencang, sementara mobil itu semakin dekat.
“Revan… Awasss....” tiba” Reyna merangkul stang motor Revan. Namun, Reyna tak
berhasil menghindar. Mereka berdua jatuh dari motor dan terlempar, tak disangka
ternyata kepala Revan terbentur ke aspal jalan yang dilaluinya, dan
mengeluarkan banyak darah. Reyna berusaha berdiri tuk menolong Revan, karena pada
saat itu Revan sudah tak sadarkan diri.
“Revan....” ujar Reyna dengan
terbata-bata. Dia berusaha untuk bangkit mendekati kekasihnya itu. Sambil
menangis Reyna memegang tangan Revan, “Revan sadarlah,, aku sayang kamu, aku
gak mau kamu ninggalin aku Revan.” Ucap Reyna, dengan air mata yang bercucuran.
Reyna meletakkan kepala Revan
diatas kedua pahanya, dia terus membersihkan darah yang keluar dari kepala
kekasihnya itu, gaun putih yang dikenakan Reyna, kini berwarna merah akibat
darah yang keluar dari kepala Revan. Air matanya terus mengalir. “Revan… Bangun
Revan.” Ucap Reyna sambil menggoyangkan tubuh Revan. Sementara hujan turun
begitu lebat, genangan air hujan menjadi warna merah, seolah pada saat itu
terjadi hujan darah.
Perlahan Revan membuka matanya,
mulutnya bergerak seakan ada hal penting yang mau dia katakan. Air matanya pun
jatuh melihat Reyna menangis. “Revan,,,” ujar Reyna.
“Kamu bertahan ya, aku sayang sama
kamu Revan. Aku gak mau kehilangan kamu, Revan… Please bertahanlah demi aku…”
air mata Reyna jatuh membasahi pipi Revan.
Dengan menahan sakit yang dia
rasakan, Revan berusaha untuk memegang tangan Reyna. Reyna pun menggenggamnya
dengan kuat, seolah itu adalah genggaman terakhir yang ia rasakan dari
kekasihnya itu. “Rey… Maafin aku kalau slama ini aku buat kamu terluka, aku
pernah buat kamu sakit hati. Sungguh aku begitu sayang sama kamu Reyna, tapi
maafin aku Rey…”, ucap Revan terbata-bata.
Revan terus memandangi wajah
Reyna yang penuh dengan air mata. “Slamat tinggal Reyna, cinta ini takkan pernah
mati sampai akhir nanti.” Ujar Revan, perlahan ia menutup matanya.
Reyna berteriak memanggil Revan, “Revan……
jangan pergi tinggalin aku, aku gak sanggup hidup tanpa kamu Revan,” ujar Reyna
meraung-raung. Dia terus mengusap kepala Revan yang berlumuran dengan darah.
Air mata Reyna begitu banyak
keluar, “ makasih ya sayang, kamu telah membuat hari-hariku terasa indah, diri
kan slalu ada dalam hatiku”, ujarnya dalam hati dengan mata yang
berbinar-binar. Kemudian Reyna mencium kening Revan.
Malam telah begitu larut, jendela
kamar Reyna masih terbuka lebar. Air matanya terus membasahi pipinya. Kenangan
bersama Revan kan selalu menjadi memory terindah yang ada di hidupnya.
“Revan, andaikan kamu melihat aku
di surga sana, aku akan katakan cinta ini kan selalu tersimpan di hatiku,
hingga maut mengantarkanku padamu sayang.” Ujarnya malam itu di bawah rintikan
hujan.
riya bagussss. . . .blog kamu q ge belajar ni. ..
BalasHapusmasih jelek ini
BalasHapus